Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

18 Februari 2018

KISAH SEORANG ANAK YANG INGIN BERSEKOLAH

:: Kisah Seorang Anak yang Ingin Bersekolah ::

Seorang anak, menelepon ayahnya yang sudah bercerai dengan ibunya dan tinggal terpisah rumah dengan dirinya, adiknya serta ibunya. Pagi itu, ibunya sakit dan tidak bisa mengantar anaknya ke sekolah seperti biasanya. Jarak sekolahnya 1 km dari rumahnya, dan si anak ini bertubuh lemah.

Pagi itu jam 6:00 si anak menelepon ayahnya:

Anak: “Ayah, antarkan aku sekolah..”

Ayah: “Ibumu kemana?”

Anak: “Ibu sakit ayah, tidak bisa mengantarkan aku ke sekolah, Kali ini ayah ya, yang antarkan aku ke sekolah.”

Ayah: “Ayah tidak bisa, ayah nanti terlambat ke kantor. Kamu naik angkot saja atau ojek!”

Anak: “Ayah, uang ibu hanya tingal Rp. 10rb. Ibu sakit, kami pun belum makan pagi, tak ada apa-apa di rumah. Kalau aku pakai untuk ongkos, kasian ibu sakit belum makan, juga adik-adik nanti makan apa ayah?

Ayah: “Ya sudah, kamu jalan kaki saja ke sekolah, ayah juga dulu ke sekolah jalan kaki.
Kamu anak laki-laki harus kuat.”

Anak: “Ya sudah, terimakasih ayah.”

Si anak mengakhiri teleponnya dengan ayahnya. Dihapusnya air mata di sudut matanya. Lalu ia berbalik masuk kamar, ketika ibunya menatap wajahnya, dia tersenyum.

Ibu: “Apa kata ayahmu nak?”

Anak: “Kata ayah iya ibu. Ayah kali ini yang akan antar aku ke sekolah.”

Ibu: “Baguslah Nak, sekolahmu jauh. Kamu akan kelelahan kalau harus berjalan kaki.
Doakan ibu lekas sembuh ya, biar besok ibu bisa antar kau ke sekolah.

Anak: “Iya ibu, ibu tenang saja, ada ayah yang antar. Ayah bilang aku tunggu di depan gang supaya cepat, Bu.

Ibu: “Berangkatlah nak, belajar yang rajin dan semangat.”

Anak: “Iya ibu…”

Tahun berganti tahun, kenangan itu tertanam kuat dalam ingatan si anak.
Dia sekolah sampai pasca sarjana dengan beasiswa. Setelah lulus, dia bekerja di perusahaan asing dengan gaji yang besar. Dengan penghasilannya, dia membiayai hidup ibunya, membantu menyekolahkan adik-adiknya sampai sarjana.

Satu hari, saat di kantor… ayahnya menelepon dirinya.

Anak: “Ada apa ayah?”

Ayah: “Nak, ayah sakit, tidak ada yang membantu mengantarkan ayah ke rumah sakit.”

Anak: “Memang istri ayah ke mana?”

Ayah: “Sudah pergi nak sejak ayah sakit sakitan.”

Anak: “Ayah, aku sedang kerja. Ayah ke rumah sakit naik taxi saja.”

Ayah: “Kenapa kamu begitu? Siapa yang akan urus pendaftran di RS dan lain-lain? Apakah supir taxi? Kamu anak ayah, masakan orangtua sakit, kamu tidak mau bantu mengurus?”

Anak: “Ayah, bukankah ayah yang mengajarkan aku mengurus diri sendiri? Bukankah ayah yang mengajarkan aku bahwa pekerjaan lebih penting daripada istri sakit dan anak?”

“Ayah, aku masih ingat, satu pagi aku menelpon ayah minta antarkan ke sekolahku. Waktu itu ibu sakit, ibu yang selalu antarkan kami anak-anaknya, yang mengurus kami seorang diri. Namun ayah katakan aku pergi jalan kaki, tubuhku lemah, sekolahku jauh, namun ayah katakan anak laki laki harus kuat. Dan ayah katakan ayah pun dulu berjalan kaki ke sekolah. Maka aku belajar bhwa karena ayah lakukan demikian, maka aku pun harus lakukan hal yang sama. Saat aku sakit pun hanya ibu yang ada mengurusku, saat aku membutuhkan ayah, aku ingat kata kata ayah, anak laki laki harus kuat.”

“Ayah tau? Hari itu pertama kali aku berbohong kepada ibu, aku katakan ayah yang akan antarkan aku ke sekolah, dan meminta aku menunggu di depan gang.
Tapi ayah tau? Aku jalan kaki seperti yang ayah suruh. Di tengah jalan, ibu menyusul dengan sepeda. Ibu bisa tau aku berbohong, dengan tubuh sakitnya ibu mengayuh sepeda mengantarkan aku ke sekolah.

Ayah mengajarkan aku pekerjaan adalah yang utama, ayah mengajarkan aku kalau ayah saja bisa, maka walau tubuhku lemah aku harus bisa. Kalau ayah bisa ajarkan itu, maka ayah pun harus bisa.

Si ayah terdiam. Sepi di seberang telepon.
Baru disadarinya betapa dalam luka yang ditorehkannya di hati anaknya.

Anak adalah didikan orangtua.
Bagaimana kita bersikap, memperlakukan mereka, kita sama saja sedang mengajarkan mereka bagaimana memperlakukan kita kelak, ketika kita tua dan renta.

Si anak dosa?
Mungkin....
Si anak durhaka?
Barangkali....

Yang jelas ayahnya yang membuat anaknya menjadi demikian.
Dan kelak orangtua membuat pertangung jawabannya masing-masing kepada sang Khalik, Si Empunya Anugerah yang dititipkan.

Menjadi orangtua bukan karena menanamkan benih atau karena melahirkan.

Menjadi orangtua berarti mengasuh, mendidik, menyayangi, memberi waktu, perhatian, mengayomi, mencurahkan perhatian dan kasih sayang.

Menjadi orangtua, tidak ada kata pensiun.
Finishnya hanya saat kematian tiba untuk memisahkan. Semoga bermanfaat

http://Sahroji.blogspot.com

09 Januari 2018

GAMBUH


1
Sekar gambuh ping catur, kang cinatur polah kang kalantur, tanpa tutur katula-tula katali, kadaluwarsa kapatuh, katuruh pan dadi awon.
Sekar gambuh pola yang keempat, yang menjadi bahan perbincangan adalah perlaku yang tidak teratur, tidak mau mendengar nasihat, semakin lama semakin tak terkendali, hal ini akan berakibat buruk.

2
Aja nganti kabanjur, barang polah ingkang nora jujur, yen kebanjur sayekti kojur tan becik, becik ngupayaa iku, pitutur ingkang sayektos.
Jangan sampai kau terlanjur dengan tingkah polah yang tidak jujur, jika sudah telanjur akan mecelakakan, dan hal itu tidak baik. Oleh karena itu, berusahalah ajaran yang sejati.

3
Tutur bener puniku, sayektine apantes tiniru, nadyan metu saking wong sudra papeki, lamun becik nggone muruk, iku pantes sira anggo.
Ajaran yang benar itu patut kau ikuti, meskipun berasal dari orang yang rendah derajatnya, namun jika baik dalam mengajarkan, maka ia pantas kau terima.

4
Ana pocapanipun, adiguna adigang adigung, pan adigang kidang adigung pan esthi, adiguna ula iku, telu pisan mati sampyoh.
Ada kiasa yang berbunyi adiguna, adigang, adigung, adigang kiasan kijang, adigung kiasan gajah, dan adiguna kiasan ular. Ketiganya mati bersamaan.

5
Si kidang ambegipun, angandelaken kebat lumpatipun, pan si gajah angandelken gung ainggil, ula ngandelaken iku, mandine kalamun nyakot.
Tabiat si kijang adalah menyombongkan kecepatannya berlari, si gajah menyombongkan tubuhnya yang tinggi besar, sedangkan si ular menyombongkan bisaya yang ganas bila menggigit.

6
Iku upamanipun, aja ngandelaken sira iku, suteng nata iya sapa kumawani, iku ambeke wong digang, ing wasana dadi asor.
Itu semua hanya perumpamaan, janganlah kau menyombongkan diri karena putra raja sehingga merasa tidak mungkin ada yang berani, itu tabiat yang adiganng, ujung-ujungnya merendahkanmu.

7
Adiguna puniku, ngandelaken kapinteranipun, samubarang kabisan dipundheweki, sapa bisa kaya ingsun, togging prana nora enjoh.
Watak adiguna adalah menyombongakan kepandaiannya, seluruh kepandaian adalah miliknya. Siapa yang bisa seperti aku, padahal akhirnya tidak sanggup.

8 
Ambek adigung iku, angungasaken ing kasuranipun, para tantang candhala anyenyampahi, tinemenan nora pecus, satemah dadi geguyon.
Tabiat orang adigung adalah menyombongkan keperkasaan dan keberaniannya, semuanya ditantang berkelahi, bengis, dan suka mencela. Tetapi jika benar-benar dihadapi, ia tak akan melawan, bahkan jadi bahan tertawaan.

9
Ing wong urip puniku, aja nganggo ambek kang tetelu, anganggowa rereh ririh ngati-ati, den kawangwang barang laku, kang waskitha solahing wong.
Dalam kehidupan, jangan kau kedepankan tiga tabiat tersebut, berlakulah sabar, cermat, dan hati-hati. Perhatikan segala tingkah laku, waspadai segala perilaku orang lain.

10
Dene tetelu iku, si kidang suka ing panitipun, pan si gajah alena patinireki, si ula ing patinipun, ngandelaken upase mandos.
Dari ketiganya itu, si kijang mati karena kegembiraannya, gajah mati karena keteledorannya, sedangkan ular mati karena keganasan bisanya.

11
Tetelu nora patut, yen tiniru mapan dadi luput, titikane wong anom kurang wewadi, bungah akeh wong kang nggunggung, wekasane kajalomprong.
Ketiganya tidak patut kau tiru, kalau kau tiru akibatnya akan buruk. Ciri-ciri pemuda adalah tidak dapat menyimpan rahasia , senang bia banyak yang menyanjung yang akhirnya menjerumuskan.

12
Yen wong anom iku, kakehan panggunggung, dadi kumprung, pengung bingung wekasane pan angoling, yen ginunggung muncu-muncu, kaya wudun meh mencothot.
Jika pemuda terlalu banyak sanjungan, maka ia menjadi tolol, tuli, dan bingung, akhirnya mudah diombang-ambingkan, jika sedang dimuji, maka monyong seperti bisul yang hampir meletus

13
Dene kang padha nggunggung, pan sepele iku pamrihipun, mung warege wadhuk kalimising lathi, lan telese gondhangipun, reruba alaning uwong.
Adapun yang senang menyanjung sangat sederhana keinginannya, yaitu kenyang perut, basah lidah dan tenggorokan dengan menjual keburukan orang lain.

14
Amrih pareke iku, yen wus kanggep nuli gawe umuk, pan wong akeh sayektine padha wedi, tan wurung tanpa pisungsung, adol sanggup sakehing wong.
Supaya dekat (dengan atasan). Jika sudah terpakai kemudian membuat ulah dengan membuat orag menjadi takut sehingga ia menerima upeti dari hasil menjual kemampuan orang lain.

15
Yen wong mangkono iku, nora pantes cedhak lan wong agung, nora wurung anuntun panggawe juti, nanging ana pantesipun, wong mangkono didhedheplok.
Orang seperti itu tidak pantas untuk berdekata dengan pembesar karena dapat mendorong untuk berbuat jahat. Meskipun begitu tetap ada kepantasannya, yaitu ditumbuk.

16
Aja kakehan sanggup, durung weruh tuture agupruk, tutur nempil panganggepe wruh pribadi, pangrasane keh kang nggunggung, kang wus weruh amalengos.
Jangan terlalu merasa tahu banyak. Belum melihat dengan mata kepala sendiri tetapi banyak berbicara, bahkan hanya dengan mendengar seolah-olah mengetahui sendiri. Dikiranya banyak yang menyanjung, padahal yang mengetahuinya akan memalingkan muka.

17
Aja nganggo sireku, kalakuwan kang mangkono iku, nora wurung cinirenen den titeni, mring pawong sanak sadulur, nora nana kang pitados.
Oleh karena itu, Nak. Jangan kau bersikap seperti itu karena pasti akan mencadi catatan dalam hati sanak saudara. Mereka tidak akan percaya lagi kepadamu.



SAHROJI,S.Pd.I

CALEG DPRD PROVINSI JATENG
DAPIL BREBES,TEGAL DAN KOTA TEGAL
PARTAI PKB
NOMOR URUT 11

08 Januari 2018

MENUNTUT ILMU

Bismillah


Barangsiapa yg menuntut ilmu untuk 3 tujuan ini, maka dia termasuk ahli neraka :

1. Membanggakan diri kpada ulama
2. Berdebat dengan orang2 bodoh
3. Mencari perhatian orang lain

Hendaknya dalam menuntut ilmu itu untuk 4 perkara, karna inilah hakikat & tujuan orang menuntut ilmu :

1. Untuk membebaskan dirinya dari kebodohan
2. Untuk menyebarkan manfaat kpada orang lain
3. Untuk menghidupkan ilmu
4. Untuk mengamalkannya dan yang terpenting adalah dengan niat untuk mencari ridho Allah serta untuk memperoleh kesenangan akherat

Jika demikian, maka dia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat.
( Asy-Syeikh Abu Nashir As-Samarqandi )

SAHROJI,S.Pd.I

CALEG DPRD PROVINSI JATENG
DAPIL BREBES,TEGAL DAN KOTA TEGAL
PARTAI PKB
NOMOR URUT 11

06 Januari 2018

TENTANG FIDUSIA




Kita Bagikan informasi ini kepada Semua Rakyat Indonesia Supaya Masyarakat Tidak di Intimidasi dan Di Teror oleh yang namanya Dept Colektor.
Bank Indonesia  dalam Surat Edaran BI No. 15/40/DKMP tanggal 23 Sep 2013.
Mengatur bahwa syarat uang muka/DP kendaraan bermotor melalui bank minimal adalah 25% utk roda 2 dan 30% untuk kendaraan roda 3 atau lebih untuk tujuan nonproduktif, serta 20% utk roda 3 atau lebih untuk keperluan produktif.
Kementerian Keuangan telah mengeluarkan peraturan yg melarang leasing atau perusahaan pembiayaan utk menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yg menunggak kredit kendaraan.
Hal itu tertuang dlm Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.130/PMK.010/ 2012 tentang pendaftaran Fidusia bagi perusahaan pembiayaan yg dikeluarkan tanggal 7 Oktober 2012.
Menurut Undang-undang No 42 Tahun 1999, Fidusia adalah suatu proses mengalihkan hak milik atas suatu benda dgn dasar kepercayaan, tapi benda tersebut masih dlm penguasaan pihak yg mengalihkan.
Fidusia umumnya dimasukkan dlm perjanjian kredit kendaraan bermotor.
Kita sebagai debitur membayar biaya jaminan fidusia tersebut.
Pihak leasing wajib mendaftarkan setiap transaksi kredit di depan notaris atas perjanjian fedusia ini.
Jadi perjanjian fidusia ini melindungi aset konsumen, leasing tdk bisa serta merta menarik kendaraan yg gagal bayar karena dengan perjanjian fidusia, alur yg seharusnya terjadi adalah pihak leasing melaporkan ke pengadilan !
Sehingga kasus Anda akan disidangkan dan pengadilan akan mengeluarkan surat keputusan untuk menyita kendaraan Anda dan kendaraan Anda akan dilelang oleh pengadilan dan uang hasil penjualan kendaraan melalui lelang tersebut akan digunakan utk membayar utang kredit Anda ke perusahaan leasing, lalu uang sisanya akan diberikan kepada Anda.
Jika kendaraan anda akan ditarik leasing, mintalah surat perjanjian fidusia dan sebelum ada surat fidusia tersebut jangan bolehkan penagih membawa kendaraan anda.
Karena jika mereka membawa sepucuk surat fidusia (yang ternyata adalah PALSU) silakan anda bawa ke hukum, pihak leasing akan didenda minimal Rp 1,5 milyar.
Tindakan Leasing melalui Debt Collector/Mata elang yang mengambil secara paksa kendaraan dirumah, merupakan tindak pidana Pencurian.
Jika pengambilan dilakukan di jalan, merupakan tindak pidana Perampasan.
Mereka bisa dijerat Pasal 368, Pasal 365 KUHP Ayat 2, 3 & 4 junto.
Ayo sebarkan untuk menghentikan tindakan semena mena dari mata elang atau debt collektor.
Mari Tertib Hukum !!! Hargai hukum agar kita menjadi masyarakat cerdas.
Mari kita Viralkan...!
(Sumber : Lembaga OJK IJP Kamil Razak
http://kanaljabar.com/ojk-jangan-mau-di-intimidasi-dan-diteror-debt-collector/)

17 Desember 2017

APAKAH SEKOLAH KITA SUDAH BERADAB

Tulisan ini bagus sekali.  InsyaAllah bermanfaat sekali bagi pribadi yg membacanya dan lembaga pendidikan yang dikelolanya.

INGIN ANAK KITA BERADAB? APAKAH SEKOLAHNYA SUDAH MENUNJUKKANNYA? MARI INTROSPEKSI.

Semoga berkenan mengorbankan waktu sejenak merenungi arah pendidikan anak kita dengan membaca tulisan berikut:

APAKAH SEKOLAH KITA SUDAH "BERADAB"?

(Irfan Amalee)

Setahun terakhir ini saya terlibat membantu program "Teaching Respect for All UNESCO". Saya juga membantu sejumlah sekolah agar menjadi sekolah welas asih (compassionate school).

Dua hal diatas membawa saya bertemu dengan sejumlah sekolah, pendidik, hingga aktivis revolusioner dalam menciptakan pendidikan alternatif. Di benak saya ada satu pertanyaan: sudah se- "compassionate" apa sekolah kita? Sejauh mana sekolah menumbuhkan sikap "respect" pada siswa dan guru, serta semua unsur dilingkungan sekolah? Karena "compassion" (welas asih) dan "respect" (sikap hormat dan empathy) adalah bagian dari "adab" (akhlak) maka pertanyaannya bisa sedikit diubah dan terdengar kasar: "sudah seber-adab apakah sekolah kita?"

Rekan saya melakukan sebuah eksperimen yang menarik. Dia berkunjung ke "Sekolah Ciputra", sekolah milik pengusaha Ciputra yang menekankan pada "karakter", "leadership" dan "entrepreneurship" serta memberi penghargaan pada "keragaman agama dan budaya.

Pada kunjungan pertama rekan saya itu datang dengan baju necis menggunakan mobil pribadi. Di depan gerbang Pak Satpam langsung menyambut hangat, "Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" Rekan saya menjawab bahwa dia ingin bertemu dengan kepala sekolah, tetapi dia belum buat janji. Dengan sopan Pak Satpam berkata, "Baik, saya akan telepon Pak Kepala Sekolah untuk memastikan apakah bisa ditemui, bapak silakan duduk, mau minum kopi atau teh?" Pelayanan yang begitu mengesankan!

Di waktu lain, rekan saya datang lagi, dengan penampilan yang berbeda. Baju kumal, dengan berjalan kaki. Satpam yang bertugas memberikan sambutan yang tak beda dengan sebelumnya, dipersilahkan duduk dan diberi minuman. Saat berjalan menuju ruang Kepala Sekolah, Satpam mengantarkan sambil terus bercerita, menjelaskan tentang sekolah, bangunan, serta cerita lain seolah dia adalah seorang "tour guide" yang betul-betul menguasai medan. Bertemu dengan Kepala Sekolah tak ada birokrasi rumit dan penuh suasana kehangatan.

Padahal rekan saya itu bukan siapa-siapa, dan datang tanpa janjian sebelumnya. Melatih Satpam menjadi sigap dan waspada adalah hal biasa. Tetapi menciptakan Satpam dengan perangai mengesankan pastilah bukan kerja semalaman. Pastilah sekolah ini punya komitmen besar untuk menerapkan "karakter luhur" bukan hanya di buku teks dan di kelas. Tapi semua wilayah sekolah, sehingga saat kita masuk ke gerbangnya, kita bisa merasakannya. Itulah "hidden curriculum, culture".

Dikesempatan lain, saya bersama rekan saya itu berkunjung ke sebuah sekolah Islam yang lumayan elit di sebuah kota besar (saya tidak akan sebut namanya). Di halaman sekolah terpampang baliho besar bertuliskan, "The Most Innovative and Creative Elementary School" sebuah penghargaan dari media-media nasional. Dinding-dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang menjuarai berbagai lomba. Ada dua lemari penuh dengan piala-piala. "Pastilah sekolah ini sekolah luar biasa," gumam saya.

Kami berjalan menuju gerbang sekolah menemui Satpam yang bertugas. Setelah kami mengutarakan tujuan kami ketemu Kepala Sekolah, Satpam itu dengan posisi tetap duduk menunjuk posisi gerbang dengan hanya mengatakan satu kalimat, "Lewat sana". Kami masuk ke sekolah tersebut. Di tangga menuju ruangan Kepala Sekolah, ada seorang ibu yang bertugas menjadi "front office" menghadang kami dengan pertanyaan, "Mau kemana?" dengan wajah tanpa senyum. Saat tiba di ruangan Kepala Sekolah, kebetulan saat itu mereka sedang rapat. Sehingga kami harus menunggu sekitar 45 menit. Selama kami duduk, berseliweran guru datang dan pergi tanpa ada yang menghampiri dan bertanya, "Ada yang bisa saya bantu?"

Akhirnya Kepala Sekolah mempersilakan kami untuk masuk ke ruangannya. Baru ngobrol sebentar, tiba- tiba seseorang di luar membuka pintu dan memasukkan kepalanya menanyakan sesuatu kepada Kepala Sekolah yang tengah mengobrol dengan kami. Tak lama dari itu tiba-tiba seorang guru masuk lagi langsung minta tanda-tangan tanpa peduli bahwa kami sedang mengobrol. Karena kesal, akhirnya Kepala Sekolah itu mengunci pintu agar tak ada orang masuk.

Dalam obrolan, saya sempat bertanya, "Apa kelebihan sekolah ini?" Kepala Sekolah terlihat berpikir keras selama beberapa menit sampai akhirnya menjawab, "Ini seperti toko serba ada, semua ada". Dari jawaban itu saya baru faham, pantas saja Satpam sekolah ini tak punya "sense of excellent service", Kepala Sekolahnya saja tak bisa menjelaskan apa "value preposition" sekolahnya. Kemegahan bangunan, serta berbagai prestasi yang telah diraih, rasanya menjadi tak ada apa-apanya. Karena bukan itu yang membuat kita terkesan, melainkan atmosfir sekolah, "hidden curriculum, culture".

Perjalanan kami lanjutkan ke sekolah Islam di tengah kampung. Bangunannya kecil sederhana. Pendiri sekolah ini seorang lulusan STM, tetapi mengabdikan separuh hidupnya untuk merumuskan dan menerapkan konsep "Sekolah Kreatif yang dapat Memanusiakan Manusia". Saat ditanya tentang sekolahnya, dengan lancar dia menjelaskan konsep sekolah kreatif yang memberikan keras besar pada "kreativitas anak dan guru". Ruang kelas dibuat tanpa daun pintu. Hanya lubang-lubang besar berbentuk kotak, lingkaran, bulan sabit, bintang. Sehingga ketika guru tidak menarik, siswa boleh keluar kapan saja. Tak ada seragam sekolah dan buku pelajaran. Kami duduk di pelataran sekolah sambil menyaksikan keceriaan anak-anak yang tengah bermain. Selama kami duduk, ada tiga orang guru dalam waktu yang berbeda menghampiri menyambut kami dan bertanya, "Ada yang bisa saya bantu?". Saya menangkap semangat melayani para guru tersebut. Mereka ingin memastikan tak ada tamu yang tak dilayani dengan baik.

Saat mengamati anak-anak bermain, saya melihat ada seorang anak yang jatuh dan menangis. Saya menebak bahwa guru akan segera membantu. Tetapi tebakan saya salah. Ternyata dua teman sekelasnya datang menghibur dan membantunya untuk berdiri dan memapahnya ke kelas. Saya cukup terkesan. Di sekolah yang sederhana ini saya menangkap aura kebahagiaan dari siswa dan guru-gurunya. Saya tak perlu tahu kurikulum dan sistemnya, saya sudah bisa merasakannya. "Konsep" dan "Visi" pendirinya, ternyata bukan hanya di kertas. Saya bisa melihat dalam praktik. Itulah "hidden curriculum, culture".

Pada kesempatan lain rekan saya pernah juga terkesan oleh siswa sekolah internasional yang kebanyakan siswanya berkebangsaan Jepang. Saat itu rekan saya akan mengisi acara di depan siswa pukul 10 pagi. Setengah sepuluh aula masih kosong. Tak ada orang, tak ada kursi. Lima belas menit sebelum acara para siswa datang, mengambil kursi lipat dan meletakkannya dalam posisi barisan yang rapi. Seusai acara, setiap siswa kembali melipat kursi dan meletakkannya di tempat penyimpanan, hingga ruangan kembali kosong dan bersih seperti semula. Itulah "culture".

Dari cerita diatas, saya semakin tidak tertarik pada prestasi apa yang diraih sekolah, semegah apa sebuah sekolah. Saya lebih tertarik bagaimana "budaya sekolah" dibangun dan diterapkan? Banyak sekolah yang menginvestasikan begitu banyak waktu dan pikiran untuk menyabet berbagai penghargaan. Tapi tak banyak yang serius membuat sekolah menjadi berharga dengan "karakter" dan "budi pekerti".

Banyak guru dan pelatih didatangkan untuk memberikan pembinaan tambahan pada siswa agar dapat menang lomba. Tapi sedikit sekali pelatihan "service excellence" untuk Satpam dan Karyawan. Dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang juara ini juara itu, tapi jarang sekali foto seorang siswa dipajang karena dia melakukan sebuah kebaikan.

Kehebatan lebih dihargai daripada kebaikan. Prestasi lebih berharga dari budi pekerti.

Kita harus segera mengubah "sistem pendidikan" kita masih berorientasi pada "ta'lîm" (mengajarkan) menjadi "ta'dîb" (penanaman adab).

Dalam konsep _l"compassionate school", "ta'dîb" harus diterapkan secara menyeluruh (whole school approach) meliputi tiga area:

Pertama SDM yaitu: guru, karyawan, orang-tua, hingga satpam,

Kedua kurikulum, dan yang

Ketiga Iklim atau "hidden curriculum".

Sebuah sekolah bukanlah pabrik yang melahirkan siswa-siswa pintar. Tapi sebuah lingkungan yang membuat semua unsur di dalamnya menjadi lebih ber-adab.

Untuk mengukur apakah sebuah sekolah sudah menjadi "compassionate school" tak serumit standar ISO. Cobalah berinteraksi dengan satpam sekolah, amatilah bagaimana guru beriteraksi, siswa bersikap. Rasakan atmosfirnya. Jika prestasi akademik bisa dilihat di selembar kertas, budi pekerti hanya bisa  kita rasakan

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

SAHROJI,S.Pd.I
(SMK Negeri 2 Songgom)

TAK ADA YANG ANGKAT TANGAN

(Oleh: Kak Wawan Herman Husdiawan)

Ini kisah nyata tentang anak-anak TK (Taman Kanak Kanak) di Gaza, Palestina. Cerita ini dituturkan oleh Kak Bambang Bimo Suryono salah seorang pencerita muslim terbaik juga guru saya yang pernah ke jalur Gaza beberapa waktu lalu.

Begini kisahnya, suatu hari Kak Bimo mendatangi TK di Jalur Gaza untuk menyalurkan bantuan dari Indonesia. Sekolah yang didatangi bernama TK Annajmul-Quran (TK Bintang Quran). Sekolah ini terdiri dari 7 orang guru yang kesemuanya hafal Al-Quran. Murid mereka berjumlah 163 orang anak yang merupakan anak yatim piatu korban perang.

Saat didatangi dan dibawakan bantuan tak satupun dari 163 anak korban perang yang menengadahkan tangan untuk meminta (mengemis), "Saya minta, saya minta roti!" Kalimat seperti ini sama sekali tidak ada. Mungkin tidak ada kamus meminta bagi anak anak Palestina. Padahal mereka sangat layak diberi, betul?

Lalu saat Kak Bimo hendak bercerita pada anak TK disana. Beliau mengawali dengan memberikan beberapa pertanyaan,

"Siapa diantara kalian yang ingin jadi dokter?" Tanya Kak Bimo

Ada tiga anak perempuan yang malu malu mengangkat tangan ingin jadi dokter.

"Siapa yang ingin jadi pemain sepak bola?" Tanya Kak Bimo lagi.

Riuuuuuh 6 - 7 anak anak laki-laki ankgat tangan.

"Saya, saya, saya" Teriak mereka semangat.

Ketika ditanya keinginan menjadi penyanyi, juga jadi presiden tak satupun angkat tangan. Awalnya Ka Bimo sempat berprasangka buruk bahwa anak Palestina sudah tidak berani bermimpi.

Lalu pertanyaan terakhir, ini paling menarik dan banyak hikmahnya untuk kita.

"Siapa yang ingin Syahid Fii Sabilillah?" Tanya Kak bimo dengan penuh semangat.

Mungkin Anda mengira akan banyak anak-anak TK yang rata-rata sudah hafal Al-Quran itu angkat tangan, betul?

Tapi nyatanya tidak ada satupun diantara mereka yang angkat tangan, tidak ada!

Anak-anak sholih, dan sholiha para penjaga Al-Aqsha itu tidak sekedar angkat tangan tapi mereka semua kompak, tanpa aba-aba, tanpa komando, mereka semua tanpa terkecuali spontan berdiri sambil kepalkan tangan dan berseru,

"Aku mau syahid, aku mau syahid, aku mau syahid...!!!"

Jawaban itu diteriakkan lantang dengan penuh keyakinan,

"Aku mau syahid menyusul ayahku di syurga, aku mau syahid seperti pamanku, aku mau syahid seperti kakakku...!!!"

Kata-kata itu diteriakkan keras dan tanpa ragu dari lisan penghafal Al-Quran yang masih alfa tanpa dosa.

Seketika Kak Bimo mundur, tak tahan tangisan beliau pun pecah, dadanya guncang karena mendengar dan menyaksikan cita-cita tertinggi mereka yaitu Syahid Fi Sabilillah. Bukankah ini impian tertinggi seorang mukmin? Dan itu diteriakkan oleh anak tak berdosa dengan mata merah menyala tanda keberanian yang luarbiasa.

Tidak selesai sampai disitu, Kak Bimo bertanya lagi,

"Siapa yang ingin syahid lebih dahulu?" Kali ini jawaban mereka lebij dahsyat lagi

"Saya saya saya!" Teriak mereka sambil kepalkan tangan bahkan anak-anak yang tadinya hanya berdiri kini naik ke kursi agar lebih terlihat oleh penanya bahwa impian tertinggi mereka adalah Syahid Fi Sabilillah lebih awal.

Siapa yang tidak merinding, berguncang dan menangis menyaksikan peristiwa yang mungkin tidak terjadi di tempat lain selain di bumi Allah Palestina.

Ayah bunda, bagaimana menurut anda kejadian ini?

Pertanyaannya kira-kira bagaimana cara mereka dididik? Apa yang dilakukan orangtua mereka? Sehingga masih TK saja sudah sedemikian indah cita-citanya. Mati syahid itu kalau benar niat dan caranya pasti garansi syurga, anak palestina paham ini. Sejatinya semua yang mengaku beriman pada Allah cita-citanya adalah Syahid Fi Sabilillah.

Sekali lagi kira-kira apa yang dilakukan orangtua palestina dalam mendidik anaknya?

Entahlah, satu hal yang saya tahu ini saya dengar dari seorang Syeikh asal Palestina saat kunjungannya ke NTB. Beliau mengatakan ada dua ruh utama bagaimana anak Palestina dididik orangtuanya:

1. Al Quran

Sejak 0 tahun sudah didengarkan Al-Quran, diajarkan Al-Quran dan didik dengan Al-Quran.

2. Kisah-Kisah

Anak-anak disana dikisahkan cerita dari Al-Quran, dikisahkan cerita para Nabi, Sahabat dan orang orang sholih terdahulu. Ini sangat merasuk dijiwanya.

Ujar salah seorang Syeikh Palestina. Sudah kah kita sungguh-sungguh melakukan dua hal diatas...?

Ahhhh..., membayangkan semua anak-anak Taman Kanak-Kanak tanpa dikomandoi bercita-cita mati syahid demi agamanya itu sungguh sangat istimewa.

Semoga buah hati kita kelak memiliki ruh Al-Quran, dan menjadi pejuang Al-Quran seperti anak-anak Palestina.

Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin...