Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

18 Januari 2018

PLAFON REJEKI


Sejak  kecil  kita  sudah  mendengar  ajaran  bahwa  "rejeki  itu diatur  oleh  Allah".  Tetapi umumnya sudah kita  bertindak  dan  bersikap sebaliknya,  meskipun itu tidak  salah. Yaitu  berjuang  keras  mati matian  untuk  mendapatkan  uang, mungkin rejeki, seolah-olah jatah berusaha  mendapat  sebanyak rejeki kita belum  ditentukan.

Apakah rejeki kita memang sudah  diatur...? Jawabnya: YA. 
Tetapi yang  mengatur  bukan  Allah langsung... yaitu, Allah  punya  mekanisme hukum-hukum alam  yang diciptakan untuk mengatur alam semesta ciptaannya ini. 

Salah satu hukum alam yang mengatur rejeki kita adalah  HUKUM  ALAM  KESESUAIAN.

Rejeki kita ini sama dengan rata-rata rejeki 6 orang yang paling  mempengaruhi kita beberapa tahun  terakhir ini. Itulah yang mengatur  rejeki kita. Ibarat termostat menjadi disetrika listrik,  angka rata-rata  rejeki 6 orang tadi batas atas rejeki  kita. Jika sudah hampir mendekati  batas atas,  maka  dimunculkan  segala  hal,  mulai  tidak  fokus  sampai didatangkan  pengganggu yang  bisa  menurunkan  rejeki  kita.

Kita  bisa  saja  berusaha  setengah  mati  sehingga  rejeki  kita  bisa menembus  plafon  atau  takaran  tadi.  Tapi  itu  tidak  akan  lama,  rejeki kita  akan  ditarik  lagi  ke  bawah  oleh  pikiran  bawah  sadar  kita. satunya cara mudah Satu adalah  dengan  menaikkan  plafon  rejekinya.

SAHROJI,S.Pd.I

CALEG DPRD PROVINSI JATENG
DAPIL BREBES,TEGAL DAN KOTA TEGAL
PARTAI PKB
NOMOR URUT 11

14 Januari 2018

NASIHAT JACK MA


Jack Ma adalah seorang anak yg lahir dari keluarga kurang mampu di Cina.

Pada awalnya profesinya seorang guru SMA.
namun dia memiliki KEMAUAN BELAJAR DAN BEKERJA KERAS.
Hari ini Jack Ma adalah salah seorang terkaya di dunia dg perusahaannya Ali Baba.
Saat ini Ali Baba adalah pemilik saham dari Lazada, tokopedia, bahkan gojek.
Jack Ma  berkata : Aku Bisa "Memarahi" Kamu Sampai Kamu Jadi Sukses!
Tapi, Apa Kamu Berani Baca Sampai Selesai?

1. Aku Gak Pinter Ngomong

Salah
Tidak ada orang yang terlahirkan dengan tak ada keahlian berbicara. Setiap pembicara di atas pentas itu tidak terlahir langsung pintar berbicara,
mereka membutuhkan proses berlatih, menghafal berulang - ulang! Ngomel itu juga sesuatu yang baik, karena sadar atau tidak, ketika kita berdebat, mengumpat sesuatu, kita "menghakimi" sesuatu dan itu melatih otak kita untuk berbicara dengan penuh pengetahuan. Masih berani bilang kamu gak pinter ngomong?

2. Aku Kan Gak Punya Uang

Salah!
Bukan gak punya uang, tapi kamu tidak merencanakan dan komitmen pada rencana itu! Uang ada, tapi udah dijajankan. Kita suka menghabiskan uang kita, bukan menginvestasikannya. Makan, minum, jalan - jalan, sesuatu yang hanya sesaat, itu gak akan mendatangkan perubahan!
Jangan jadi orang yang hanya mengandalkan gaji setiap bulan, 1 hari lewat 1 hari, lewat ya sudah lewat. Tetapi ubah dirimu untuk mengatur setiap keuangan dan waktumu.

3. Aku Gak Punya Kemampuan 

Salah!
Kamulah yang tidak beri dirimu sendiri kesempatan untuk berlatih. Potensi itu muncul darimana? Begitu kamu tamat kuliah, kerja langsung jadi superman?
Tidak! Setiap orang perlu belajar dan giat berlatih, tidak takut lelah dan terus bangkit kalau gagal!
Kita sering bosen dengan sesuatu yang tujuannya melatih diri kita atau tidak mau belajar apa yang tidak kita suka, padahal ada pepatah China yang mengatakan, "Hidup sampai tua, belajar sampai TUA!"

4. Aku Gak Punya Waktu

Salah!
Semua manusia sama2 memiliki 24jam, hanya saja kita suka menghabiskan waktu di hal hal yang tak berguna!
Waktu orang lain sedang belajar, kamu di sana sedang nonton TV. Saat orang lain berlatih diri, kamu di sana maen game. Ketika waktu sisa masih ada, yang kamu rasakan hanya bosan. Manage waktu anda, jangan dibalik!

5. Aku Gak Mood

Salah!
Mood sedang bagus kita pergi main, kalau lagi gak mood, kita mengunci diri di rumah. Saat mood bagus kita pergi shopping, kalau lagi gak, kita pergi main game. Kalau mood bagus kita menikmati, jika tidak kita tidur pules. Kalau dipikir - pikir, gak ada bedanya kamu mood bagus atau gak, sama - sama melakukan hal yang tak berguna.
Ingat, saat miskin, jadilah orang yang murah hati, ketika jadi orang kaya, janganlah sok mewah. Belajarlah investasi, belajarlah harus hemat karena ini semua berhubungan.

Begitu hidupmu memerlukan uang yang sangat besar, disitulah kamu harus menggunakan setiap pemasukan dan mewujudkan mimpimu.

Lebarkan sayapmu dan terbanglah setinggi mungkin!

Salam sukses

SAHROJI,S.Pd.I

CALEG DPRD PROVINSI JATENG
DAPIL BREBES,TEGAL DAN KOTA TEGAL
PARTAI PKB
NOMOR URUT 11

08 Januari 2018

KISAH NYATA


Agnes adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdo'a bersama. Bahkan, saking taatnya, saat Agnes dilamar Martono, kekasihnya yang beragama Islam, dengan tegas ia mengatakan “Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari pada manusia!”

Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam.
Martono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Agnes. Tepat tanggal 17 Oktober 1982, mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah.

Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta, Agnes beserta sang suami berangkat ke Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur kota kembang.
Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha dan Rio.

Di lingkungan barunya, Agnes terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu, Bandung. Demikan pula Martono, sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Martono saat itu menduduki jabatan penting, sebagai Kepala Divisi Properti PT Telkom Cisanggarung, Bandung.

Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik.
Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang ‘disulap’ menjadi tempat ibadah (Gereja,red).
Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya.
Syahdan, saat itu, Rio, si bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan Rio ke salah satu rumah sakit Kristen terkenal di wilayah utara Bandung.
Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Agnes masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.
Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Rio, yang masih terkulai lemah, meminta Martono, sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan.

Martono pun keluar ruangan untuk memberitahu Agnes ihwal permintaan putra bungsunya itu.
Namun, Agnes tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada Martono, ”Saya sudah tahu.” Itu saja
Martono heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak.
Di dalam, Rio berucap, “Tapi udahlah, Papah aja, tidak apa-apa. Pah hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya.”
Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan.
Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.

Hingga sore menjelang, Rio kembali berujar, “Pah, Rio mau pulang!”

“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab Martono.
“Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa.
Belum hilang keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar bisikan yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung.

Tapi perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.
Tak lama setelah itu bisikan kedua terdengar, bahwa setelah Adzan maghrib Rio akan dipanggil sang Pencipta.
Meski tambah terkejut, mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup Adzan maghrib, berkumandang Rio menghembuskan nafas terakhirnya.

Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata,

“Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.”

Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.

Setelah melalui diskusi dan perdebatan diantara keluarga, jenazah Rio kemudian dibalut pakaian, celana dan sepatu yang serba putih kemudian dishalatkan.
Namun, karena banyak pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenazah Rio pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di Cimahi, Bandung.

Sepeninggal anaknya Rio, Agnes sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil.
Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.” Pada saat itu juga Agnes langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu,

”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang muslimah yang bertugas merawat Rio di rumah.

Saat itu Agnes menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?”
“Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Rio, singkat.

Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, Agnes meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji waktu itu. Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp 17.850.000.
Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun.

Hal ini diartikan Agnes sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat Rio di rumah.
Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Agnes via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Rio. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan,
“Kepergian Rio tak usah terlalu dipikirkan. Rio sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdo'a saja.”
Namun, pesan itu tak lantas membuat sang Ibunda tenang. Bahkan Agnes mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.

Satu malam saat tertidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”.
Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya.

Bahkan setelah mendapatkan Alquran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban.

“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai.

Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap “Astaghfirullah.”
Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.
Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Agnes berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku.
Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”.

Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan.
Sampai suatu malam, Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Martono saat melihat istri tercintanya, Agnes, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.

“Lho kok Mamah shalat,” tanya Martono.
“Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab Agnes lirih. Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.
Martono pun Akhirnya Kembali ke Islam

Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan.
Satu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba Adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal.

Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba Adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung.
Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor.
Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya.

Hasilnya, suara Adzan Adi yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapapun yang mendengar. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung, basahi pipi sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan bahagia.

Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama, menyisihkan 33 peserta lainnya.
Usai lomba Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu.
Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat. Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”

Mengetahui hal itu, Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk Islam.
Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat.
Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.
Pak Martono SH beliau dulu waktu Dirut Telkom jaman nya Pak Cacuk, bertugas sbg Kasekper, Ka Inditor, Kadiv Properti.
Setelah kembali moslem Beliau mewakafkan 7 ha tanahnya untuk pesantren Baitul Hidayah di Bandung.
Subhanallah.

ALLAH MAHA PENYAYANG KEPADA HAMBA-NYA...

Kisah fakta.... tolong sebarkan... bagian da'wah kita.... jangan berhenti di tangan anda

SAHROJI,S.Pd.I

CALEG DPRD PROVINSI JATENG
DAPIL BREBES,TEGAL DAN KOTA TEGAL
PARTAI PKB
NOMOR URUT 11


والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته
١٩-٠٢-٢٠١٧ دارى مارويا ...  بدر زمان

MENUNTUT ILMU

Bismillah


Barangsiapa yg menuntut ilmu untuk 3 tujuan ini, maka dia termasuk ahli neraka :

1. Membanggakan diri kpada ulama
2. Berdebat dengan orang2 bodoh
3. Mencari perhatian orang lain

Hendaknya dalam menuntut ilmu itu untuk 4 perkara, karna inilah hakikat & tujuan orang menuntut ilmu :

1. Untuk membebaskan dirinya dari kebodohan
2. Untuk menyebarkan manfaat kpada orang lain
3. Untuk menghidupkan ilmu
4. Untuk mengamalkannya dan yang terpenting adalah dengan niat untuk mencari ridho Allah serta untuk memperoleh kesenangan akherat

Jika demikian, maka dia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat.
( Asy-Syeikh Abu Nashir As-Samarqandi )

SAHROJI,S.Pd.I

CALEG DPRD PROVINSI JATENG
DAPIL BREBES,TEGAL DAN KOTA TEGAL
PARTAI PKB
NOMOR URUT 11