Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

26 Desember 2017

DUA JUTA BANSER AMANKAN NATAL


2 Juta Banser Amankan Natal, Kapolri Beri Pujian

Jenderal Tito Karnavian, Marsekal Tjahjanto, dan Maruarar Sirait. (SP/Hotman Siregar )

Oleh: Hotman Siregar / AB | Selasa, 26 Desember 2017 09:39 WIB

Jakarta - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan selama perayaan Natal di seluruh Indonesia tidak ada gangguan keamanan yang berarti. Keamanan selama Natal bisa terjaga berkat kerja sama aparat Kepolisian, TNI, serta masyarakat. Salah satu komponen masyarakat yang membantu mengamankan Natal adalah Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama. 

“Alhamdulillah sampai hari ini belum ada insiden yang berarti (saat perayaan Natal) di seluruh Indoensia. Kemudian masih ada lagi pekerjaan kita untuk mengamankan rangkaian Tahun Baru,” ujar Jenderal Tito saat memberikan sambutan pada acara ramah tamah di kediamaan politisi PDIP Perjuangan, Maruarar Sirait di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Senin (25/12) malam.

Jenderal Tito berterima kasih kepada TNI yang telah bekerja sama mengamankan Natal. “Terima kasih banyak terhadap panglima TNI dan jajarannya atas dukungan yang sangat luar biasa. TNI-Polri enggak ada apa-apanya, kalau rakyat tidak mendukung,” katanya.

Secara khusus kapolri memuji Banser NU yang turut serta mengawal perayaan Natal di sejumlah daerah. Tito menyebut Polri hanya mengerahkan ratusan ribu personel ditambah sekitar 90.000 personel TNI dalam pengamanan Natal, sementara Banser NU mengerahkan lebih dari 2 juta anggota.

“Terima kasih banyak kepada Banser dan masyarakat lainnya. Kalau kita sebut, namanya ini silent warrior. Dia adalah pejuang, tetapi tidak kelihatan,” kata Tito.

Kapolri menyatakan kebersamaan dalam menjaga keamanan akan semakin baik terutama untuk menyambut masa depan yang banyak tantangan.

Pada kesempatan yang sama, putri mendiang Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid mengatakan open house Natal 2017 di rumah Maruarar membuat semua orang bahagia. Hal ini mengukuhkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

Menurutnya, bangsa Indonesia telah memiliki banyak modal untuk memupuk semangat persatuan dan kesatuan. Salah satunya lewat Panglima TNI Marsekal Hadi dan Jenderal Tito yang sangat dekat dengan masyarakat.

“Negara ini akan menjadi negara besar bila kekompakan itu tetap terjaga,” katanya.

Ia juga memuji Ara--sapaan akrab Maruarar--yang tanpa kenal lelah menyuarakan perlunya menjaga kebinekaan. Hal yang sama dilakukan organisasi pemuda, seperti HMI dan GMKI yang punya komitmen sama menjaga persatuan dan kesatuan.

“Ini kita hargai semua. Bagi NU yang mayoritas sudah tugas kami mengayomi kelompok minoritas. Ini adalah panggilan sejarah kami. Ini dimulai dari kakek buyut kami. Apa pun latar belakang dan suku agama keyakinan kita, hari ini bangsa Indonesia. Hari ini membuktikan bangsa ini punya kebersamaan,” katanya.

MENGENANG RIYANTO SANG PAHLAWAN KEMANUSIAAN

Tribute to RIYANTO" (2000-2017)

24 Desember tahun 2000, sahabat Riyanto Bersama empat sahabat Banser lainnya, mendapatkan tugas PAM menjaga Gereja Eben Haezer di Mojokerto Jatim.

Minggu malam, 20.30 WIB, 24 Desember 2000. Perjalanan Kebaktian Natal baru separuhnya berjalan. Riyanto dan shbt Banser yang lain tetap siaga.

Tiba-tiba ada yang memberikan informasi bahwa didepan pintu gereja ada bungkusan hitam yang mencurigakan.

Sahabat Riyanto yang mendengar info tersebut, dengan tangkas tanpa sedikitpun ada keraguan, khas Banser, langsung mendekati dan membuka bungkusan yang mencurigakan tsb. Ternyata isinya kabel yang terhubung dengan rangkaian yang memercikkan api.

Bisa jadi, shbt Riyanto tahu bahwa itu adalah bom. Mungkin ia punya kesempatan untuk kabur sesegera mungkin untuk menyelamatkan diri.

Namun Riyanto tak begitu. Ia malah berteriak dengan lantang "tiaraaaap", sambil berlari mendekap bungkusan tersebut, ia menjauh dari gereja.

Dan “Duuuaar..“ sesuatu meledak dipelukan Riyanto. Tubuhnya terpental hingga ratusan meter. Kuatnya daya ledak sampai merobohkn pagar beton gereja.

Sahabat kita, RIYANTO Banser NU, seketika lagsung mnghembuskn nafas terakhir.
... Ya, malam itu... Minggu, 24 Desember 2000. 17 tahyn yang lalu.

Sahabat Riyanto Banser NU, tanpa berpikir panjang, rela korbankan diri untuk menyelamatkan banyak nyawa.

Sahabat Riyanto adalah sosok humanis, pahlawan kemanusiaan, walaupun berbeda keyakinan agama tetap dibela, demi misi kemanusiaan, sesuai nawa prasetya Banser.

Sahabat Riyanto Banser NU adalah rakyat kecil namun berkorban untuk merawat keutuhan NKRI. Ia teladan sebagai umat beragama yang kaya nilai kemanusiaan.

17 tahun sudah, Sahabat kami, Riyanto (pahlawan Kemanusiaan) pulang.

Saatnya belajar dari Riyanto Banser NU. Saatnya Merawat Toleransi sejati di negeri ini. Saatnya NKRI !

Selamat jalan sahabatku Riyanto, 17 tahun sudah dirimu meninggalkan derap langkah pergerakan. Kami bangga kepadamu telah menjadikan GP Ansor sebagai thoriqoh menuju surga. Kau telah mempertegas peran dan posisi perjuangan GP Ansor dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Untukmu sahabat, penghormatan abadi kami.
Lahul Fatihah

(Syusie ken Hawa, 24 Desember 2017)

17 Desember 2017

PRESIDEN SERUKAN UKHUWAH

Di Depan Puluhan Ribu Pemuda NU dan Muhammadiyah, Presiden Serukan Ukhuwah

Kendi, NU Online | Sabtu, 16 Desember 2017 19:03

Yogyakarta, NU Online

Sebanyak dua puluh ribu pemuda Islam dari Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU dan Komando Kesiapsiagaan Angkata Muda (Kokam)  Muhammadiyah mendeklarasikan komitmen perdamaian, mewujudkan pemuda hebat dan komitmen menjaga bumi dalam Apel Kebangsaan dan Penanaman Pohon di Lapangan Prambanan, Yogyakarta, Sabtu (16/12). 

Presiden Joko Widodo bertindak sebagai Pembina Upacara dalam apel yang diinisiasi oleh Kemenpora ini. Presiden menyampaikan bahwa kedatangannya ke Yogyakarta hanya satu agenda, yaitu menjadi inspektur upacara dalam acara ini.

"Bagi saya semangat acara ini menjadi pondasi kedamaian di Indonesia," tegas Presiden.

Jokowi menambahkan, karena ukhuwah Islamiah,  Wathaniyah, dan Basariyah (persaudaraan kemanusiaan), Islam yang toleran di Indonesia menjadi inspirasi bagi dunia.

"Sebagai pewaris darah juang para ulama, KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan kita harus mencontoh mereka sebagai pejuang yang menciptakan Islam yang rahmatan lil alamin di Indonesia ini," jelas Presiden. 

Menpora Imam Nahrawi dalam laporannya menyampaikan, tema Pemuda Hebat Menjaga Bumi dipilih untuk menegaskan komitmen pemuda Indonesia menjaga bumi Indonesia, NKRI tercinta agar tetap lestari untuk kebaikan generasi, secara ideologis dan juga ekologis.

"Perbedaan agama, suku, ras, dan budaya tidak akan mengurangi komitmen persatuan sebagai negara-bangsa yakni satu bangsa, satu nusa, satu bahasa: Indonesia," tegas Imam. 

Setelah prosesi upacara,  Presiden bersama Menpora, Gubernur DIY dan beberapa menteri melakukan penanaman pohon untuk menjaga kelestarian lingkungan. 

Acara ini didukung dan difasilitasi oleh Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora RI.

Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Asrorun Ni'am Sholeh menyatakan pihaknya punya konsenstrasi untuk menerjemahkan Nawacita Presiden,  salah satunya memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga.

"Ini gagasan dan upaya Menpora yang luar biasa. Saya hanya menerjemahkannya dalam dukungan fasilitasi," ujarnya. 

Ditanya tentang tindak lanjut acara ini, Niam menjelaskan, pertemuan ini adalah sejarah bersatunya dua kekuatan besar dan strategis bangsa ini. 

"Selanjutnya, harus diperbanyak kegiatan bersama di level daerah. Perbedaan itu sunnatullah. Hanya saja, banyak hal yang mempersatukan kita dengan berbagai titik persamaan. Ini yang harus terus didorong untuk berkontribusi positif bagi umat, bangsa dan negara. Kami di Deputi 2 punya tanggung jawab mengembangkan potensi ini," pungkasnya. 

Apel Kebangsaan ini juga dihadiri Menko Polhukam Wiranto, Panglima TNI Jadi Tjahjanto, Kapolda Jateng Condro Kirono, Kapolda DIY, Menseskab Pramono Anung, Mendikbud Muhajir Effendi, Menteri Desa dan Transmigrasi Eko Sanjoyo, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan para pejabat negara lainnya. (Red: Kendi Setiawan)

PROVINSI YANG MEMILIKI TINGKAT RADIKALISME

Waspadalah! Lima Provinsi Ini Memiliki Tingkat Radikalisme Cukup Tinggi

Salah satu anggota Kelompok Ahli BNPT bidang Agama, Prof. Dr. Nazaruddin Umar, MA mengaku cukup kaget dengan temuan di hasil survei nasional daya tangkal masyarakat terhadap radikalisme di 32 provinsi di Indonesia tahun 2017. Hal tersebut dikatakan Nazaruddin saat menghadiri acara seminar hasil survei tersebut yang berlangsung di Hotel Milenium, Jakarta, Senin (27/11/2017).

Dimana lima (5) posisi teratas provinsi yang tidak diduga sebelumnya ternyata memiliki daya tangkal yang rendah dan memiliki potensi radikal yang begitu tinggi.yang turut hadir dalam seminar tersebut.

“Apalagi penelitian yang dilakukan oleh BNPT dan The Nusa Institute dengan mengambil 9.600 responden dari 32 provinsi ini menarik untuk dikaji, mengingat margin errornya hanya 0,7 persen dan tingkat kepekaanya mencapai angka 91,5 %. persen. Jadi ini sangat valid,” ujar Nazaruddin Umar saat menjadi narasumber di acara tersebut

Menurut pria yang juga Imam Besar masjid Istiqlal ini, hasil survei ini menarik dikaji karena banyak sekali kejutan-kejutan dalam survei ini karena justru lima wilayah yang tidak pernah disangka sebelumnya justru menduduki posisi paling tinggi tingkat potensi radikal dan rendah daya tangkalnya di masyarakat..

“Pertama provinsi Bengkulu angkanya 58,58 % disusul Gorontalo 58, 48 %, Sulawesi Selatan 58,42 %, Lampung 58,38% dan Kalimantan Utara 58,30 %. Malah justru Sulawesi Tengah yang ada Poso justru berada di papan bawah. Jadi ini pertanda bahwa Poso itu sebenarnya masyarakat umumnya tidak radikal, tapi pendatangnya yang akhirnya isu-isu dan fakto-faktor lain membuat Poso teridentifikasi radikal,” kata Nazaruddin.

Dengan melihat hasil tersebut menurutnya, angka diatas 50 % ini bisa dibilang sebagai warning buat bangsa Indonesia ini dan jangan menganggap masalahtersebut adalah hal sepele. “Kita tidak boleh meng-Kucingkan harimau, dan kita tidak boleh meng-Harimaukan kucing. Data data yang ditampilkan ini adalah sangat riil,” ujar pria kelahiran Bone, 23 Juni 1959 ini.

Lebih lanjut dirinya mencontohkan di Mesir yang selama ini orang melihat di Mesir seperti tidak terjadi gejolak. Namun yabg terjadi pada Jumat (24/11/2017) lalu telah terjadi peristiwa pengeboman di masjid yang memakan lebih dari 300 lebih korban meninggal.

“Tentunya kita tidak mau kecolongan. Apa yang dilakukan BNPT tentuanya sesuai dengan data. Orang tentunya tidak percaya seperti Bengkulu, Gorontalo tidak populer dalam masalah radikalisme. Tapi data kami membuktikan lima besar daerah itu perlu dicermati,” ucapnya.

Untuk itu menurutnya betapa pentingnya kita melakukan langkah-langkah untuk sekolah-sekolah tingkat SMP dan SMA yang mana dari hasil survei dua tingkat pendidikan itu sangat rentan disusupi paham radikal terorisme. “Jadi makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin kurang tingkat radikalnya. Misalnya S1 18,4 %, S2 0,9 %, bahkan S3 hampir 0 %. Jadi tingkat SMP dan SMA ini perlu dicermati,” tuturnya.

Mantan Wakil Menteri Agama ini mengatakan, sudah saatnya sekarang ini pendekatan dalam penanganan radikalisme terorisme jangan sporadis dan jangan juga parsial. Dimana sporadis itu hanya daerah tertenu yang aktif, tetapi daerah lainnya tidak dan Parsial menurutnya masing-masing mau melakukan sesuai bidangnya masing-masing tanpa mau melakukan koordinasi,.

“Kami tahu persis bagaimana Kepala BNPT ini sejak dulu menggalang kemitraan bersama-sama bahkan bukan hanya sesama pemerintah, tapi juga dengan ormas-ormas keagamaan, ormas-ormas sosial yang lain itu kita jalin kerjasamanya untuk meredam ini,” ujarnya.

Apa yang dilakukan BNPT menurutnya telah banyak mendatangkan hasil jika dibandingkan dengan negara-negara lain. “Banyak sekali negara negara lain yang datang ke Indonesia untuk belajar. Alhamdulillah, keberhasilan BNPT selama ini menjadi tempat belajarnya negara-negara yang besar untuk datang kesini untuk belajar

(Sumber: http://www.suaraislam.co/waspadalah-lima-provinsi-memiliki-tingkat-radikalisme-cukup-tinggi/)

16 Desember 2017

MAHFUD MD: INDONESIA MULAI DIRUSAK PENDIDIKAN RADIKAL EKSKLUSIF TIMTENG

Bandung - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD khawatir Indonesia menjadi negara konflik layaknya di Suriah. Karena itu, ia mengajak masyarakat Indonesia menjaga kebinekaan.

Hal itu diungkapkan Mahfud saat diskusi kebinekaan dalam pergelaran Desember Light Fest 2017, yang digagas Aliansi Kebhinnekaan Jawa Barat, di gedung Graha Pos, Jalan Banda, Kota Bandung, Jabar, Jumat (15/12/2017).

"Mari kita jaga kebersatuan karena kalau seperti di Suriah, kita akan menyesal. Mumpung belum terjadi, mari kita bina," ucap Mahfud dalam diskusi bertema 'Membukukan Wacana Kebhinnekaan' tersebut.

Mahfud mengakui saat ini memang tengah ada godaan untuk merusak kebinekaan melalui paham radikal. Menurutnya, ada kelompok yang ingin mengubah bangsa Indonesia menjadi negara agama.

"Indonesia yang selama ini rukun dan damai mulai dirusak radikal eksklusif yang datang dari pendidikan Timur Tengah. Ingin membangun negara agama seakan-akan kita nggak beragama. Itu bahaya kalau sampai terjadi seperti Timur Tengah, Suriah, Afghanistan, dan Pakistan. Nggak pernah aman, setiap hari ada bom," tuturnya.

Karena itu, pihaknya turut mengajak warga sama-sama membina dan menjaga kebinekaan tersebut. Jadi gangguan apa pun yang dapat merusak bisa ditangani bangsa Indonesia.

Acara Desember Light Fest sendiri merupakan acara yang digagas sejumlah komunitas di Jabar. Dengan mengangkat tema kebinekaan, penyelenggara berharap terjaminnya suatu komitmen yang solid antar-komunitas dan tokoh nasional.

"Kita ini di Indonesia punya banyak sekali keragaman kebinekaan, itu kepunyaan kita, tapi sering kali wacana kebinekaan itu biasanya disampaikan dalam bentuk filosofis, kelas seminar. Nah yang kita buat sekarang ini bagaimana urusan kebinekaan renyah dikunyah oleh berbagai kalangan karena yang mengalami wacana kebinekaan," kata ketua pelaksana Agus Leonardo. (asp/asp)

(Sumber: https://m.detik.com/news/berita/3771403/mahfud-indonesia-mulai-dirusak-pendidikan-radikal-eksklusif-timteng)

ALASAN KH.SAID AQIL

Alasan KH. Said Aqil Siradj PBNU Tidak Ikut Aksi Bela Palestina

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj mengatakan NU tidak akan turut berpartisipasi dalam Aksi Bela Palestina yang rencananya dilaksanakan di Monumen Nasional, Jakarta, Ahad, 17 Desember 2017. “Menyelesaikan masalah bukan hanya dengan aksi,” ucapnya, Jumat, 15 Desember 2017.

Pernyataan Said Aqil  tersebut menanggapi pernyataan Majelis Ulama Indonesia yang mengatakan semua organisasi masyarakat Islam turut serta dalam aksi yang rencananya dimulai dengan salat subuh berjamaah, dilanjutkan pernyataan sikap berbagai tokoh.

KH. Said menuturkan NU tidak turun ke jalan karena sudah menyatakan sikap mengenai pembelaan terhadap Palestina dan mengecam keras pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Justru yang harus didorong saat ini, menurut Said, adalah upaya secara diplomasi.

“Memperkuat diplomasi seperti apa yang sudah dilakukan Bu Retno (Menteri Luar Negeri Retno Marsudi) dan Pak Jokowi. Itu yang harus kita dorong,” ujarnya.

Pada Kamis, 7 Desember 2017, PBNU telah menyatakan sikap mendorong pemerintah Indonesia ikut serta dan proaktif membantu problem yang terjadi di Palestina. Menurut PBNU, Indonesia memiliki peran sangat strategis untuk menjadi penengah yang bisa memediasi dinamika politik yang sedang terjadi.

Meski demikian, KH. Said  tidak menghalang-halangi serta melarang jika ada warga NU yang memutuskan ingin turut serta dalam Aksi Bela Palestina tersebut. Dia mengimbau warga NU yang ikut agar tidak menggunakan atribut atau simbol organisasi.

Di tengah imbauannya tersebut, Said juga sempat bercanda akan membuat sendiri aksi turun ke jalan tanpa mendompleng organisasi lain. “Kalau kami mau turun, ada sendirilah. Kalau ya, kalau diperlukan, kami enggak akan ngdompleng,” katanya.