Tampilkan postingan dengan label HIKMAH PUASA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIKMAH PUASA. Tampilkan semua postingan

25 Juli 2013

RENUNGAN PERTENGAHAN RAMADHAN


Perjalanan Ramadhan 1434 H tanpa terasa sudah memasuki pertengahan. Sejak awal ramadhan berbagai aktivitas ibadah dengan jadwal yang padat telah kita kerjakan, tidak ubahnya laksana pelatihan yang jadwal (schedule) nya telah ditentukan yang sayang bila kita lewatkan, karena kita mengetahui di bulan yang mulia ini setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya, pintu rahmat terbuka lebar, dosa diampuni dan pintu neraka tertutup. Ramadhan adalah moment yang tiada hari tanpa amal shaleh, dan tiada amal shaleh tanpa imbalan pahala yang tidak terhitung. Karena itu akan sangat merugi sekali apabila di bulan yang dibuka lebar-lebar untuk meningkatkan ibadah dan memperbanyak amal shaleh ini berlalu begitu saja, tanpa ada prestasi atau catatan amal ibadah yang meningkat dan mengesankan, karena tentu bulan ramadhan tahun ini tidak akan pernah kembali lagi.

Puasa ramadhan yang hanya didasari dengan keimanan ternyata tidaklah cukup, masih harus diiringi dengan beragam amal shaleh yang didukung oleh seperangkat niat dan keikhlasan. Tanpa itu puasa menjadi hampa dari nilai-nilai spiritual yang merupakan roh dari puasa itu sendiri, dan tentu tujuan untuk memperoleh derajat orang beratqwa akan sulit dicapai. Karena itu keimanan, niat, keikhlasan dan  amal shaleh adalah pilar ibadah yang harus bersinergi.

Di pertengahan ramadhan ini saatnya kita monitoring  dan renungkan bagaimana kualitas ibadah puasa yang sudah kita jalankan, di saat masih tersisa setengah bulan lagi dan sebelum ramadhan tahun ini benar-benar meninggalkan kita. Sudahkah kita jalani puasa itu dengan tidak sekedar menahan lapar dan dahaga tapi juga telah mampu menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi atau menghilangkan pahala puasa kita seperti ghibah (membicarkan keburukan orang lain, tanpa ada solusi), sudah  mampukah kita menghilangkan pikiran-pikiran buruk saat kita bekerja di tempat kerja seperti berpikir untuk korupsi dan melakukannya, bagi pedagang berpikir untuk mengurangi timbangan dan melakukanya,  adakah kita peduli pada orang-orang yang tidak mampu (anak yatim, tua jumpo, orang-orang fakir miskin, anak jalanan yang tidak mampu). Sudahkah kita menghidupkan malam-malam ramadhan (qiyamullail). Sudahkah kita membaca al-Qur”an, dan mencoba memahami kandungan isinya?, dan ibadah sunnat lainnya. Jawabannya tentu terpulang kepada diri kita masing-masing.

Pelaksanaan ibadah yang hanya bersifat seremonil-ritual semata ini akan menghasilkan pribadi-pribadi yang hampa, ibarat padi yang tidak berisi. Bila diperhatikan sehari-hari mereka rajin melaksanakan segala macam amal ibadah, dari yang wajib sampai yang sunnat. Mereka berduyung-duyung ke masjid, dan mengerjakan ibadah di sana seperti kebanyakan orang mengerjakannya, mereka kelihatan seperti menghadiri sebuah upacara ritual yang kehadirannya bermakna hanya “meramaikan”, ketika upacara selesai, mereka bubar dan besok harinya kembali diulangi. Implikasi dari ibadah yang dikerjakan tidak membekas pada pribadinya. Mereka rajin shalat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya, tapi ketika mereka berada di tempat kerja, mereka kembali menekuni kebiasaan buruk yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan sosial seperti korupsi, mengumpat, berbuat maksiat dan penyakit sosial lainnya. Etos ibadah yang dikerjakan belum mampu menjadikan mereka terbentengi oleh perbuatan-perbuatan yang maksiat. Mereka gagal memperoleh hikmah kearifan dari puasa dan implikasi positif  bagi kehidupan spiritual dan sosial.

Barangkali inilah wujudnya apabila pelaksanaan ibadah tidak didasari pada pemahaman tentang dimensi ibadah yang dikerjakan dan niat yang tulus, yang ada adalah  pelaksanaan formalitasi simbolis dari kewajiban agama tanpa penyelaman dan evaluasi terhadap makna hakikat dibalik ibadah yang dikerjakan tersebut. Dalam hal puasa, inilah yang dimaksud Rasulullah ketika bersabda bahwa ada banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga (kam min sha-imin laisa lahu min shaumiwi illa alju-”I wal-”athasy”). Karena itu puasa kali ini yang tinggal beberapa hari lagi hendaknya dijadikan momentum untuk memperbaiki kualitas ibadah puasa kita, menyelami maknanya yang lebih dalam, lebih berakar, dan lebih mutidimensional. Kemampuan untuk memperbaiki kualitas ibadah tersebut akan mengantarkan seseorang untuk meningkatkan kualitas ibadahnya dan mendekati derajat taqwa.

Tentulah kita tidak ingin menjalani puasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasa  itu sendiri seperti disinggung Rasulullah tersebut.  Pesan moral puasa jangan hanya berhenti pada imsak dari makan minum dan terpenuhinya syarat rukun lainnya, tapi yang lebih penting adalah bagaimana pelaksanaan ibadah puasa itu benar-benar dilaksanakan dengan niat yang ikhlas dan konsisten menjaga integritas pribadi dari hal-hal yang dapat merusak dan mengurangi pahala puasa kita, sehingga nilai puasa  dapat memberi pengaruh dan kesan spiritual bagi diri kita, bagi masyarakat, dan bagi perbaikan karakter bangsa dan negara kita. Wallahu A”lam

Sumber: Jambi Ekspres

24 Juli 2013

MAFAAT PUASA BAGI KESEHATAN JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH




      Ternyata berpuasa sangat banyak manfaatnya diantaranya adalah dapat menyehatkan jantung dan pembulu darah, mengapa bisa demikian…….???
selama melaksanakan puasa tubuh mengalami proses metabolisme  atau makanan didaur ulang dalam sistem pencernaan sekitar 8 jam, dengan  perincian 4 jam makanan disiapkan dengan keasaman tertentu dengan bantuan asam lambung, untuk selanjutnya dikirim ke usus, 4 jam kemudian makanan diubah wujudnya menjadi sari-sari makanan di usus kecil kemudian diabsorobsi oleh pembuluh darah dan dikirim keseluruh tubuh. Waktu sisa 6 jam merupakan waktu yang ideal bagi sistem percernaan untuk istirahat.


Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Berbagai jenis penyakit jantung dan pembuluh darah yang telah
menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia.  Beberapa jenis penyakit tersebut, seperti; penyakit jantung koroner, penyakit tekanan darah tinggi (Hipertensi), Hipertensi Jantung (Hipertention Heart Disease), Ventrikel fibrillation, Stroke, dan banyak lagi jenis penyakit degeneratif jantung lainnya.

Umumnya penyakit-penyakit tersebut, disebabkan karena hiperlipidemia (kelebihan lemak darah), hiperkolesterolemia (Kelebihan kolesterol darah) yang bersifat kronis, serta lama-kelamaan akan membentuk deposit didalam dinding pembuluh darah, dan akhirnya menyebabkan kekakuan pembuluh darah tersebut, bahkan dapat terjadi penymbatan pembuluh darah, sehingga berakibat tekanan pada pembuluh darah meninggi yang disebut hipertensi.

Manfaat Berpuasa Bagi Kesehatan Jantung

Bagi penyakit kardivaskuler, tidak ada penanggulangan yang lebih baik selain mencegahnya. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbaiki gaya hidup sehat, melaksanakan pola makanan yang sehat (memperbanyak makan makanan berserat dan bersayur, serta tidak makan berlebihan makanan yang mengandung lemak dan kolesterol tinggi), serta dilanjutkan dengan olah raga atau aktivitas yang teratur.

Berpuasa akan melatih seseorang, untuk hidup teratur, serta mencegah kelebihan makan. Menurut penelitian, puasa dapat menyehatkan tubuh, sebab makanan berkaitan erat dengan proses metabolisme tubuh. Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL and apoprotein alfa1, dan penurunan LDL ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa penelitian menunjukkan saat puasa ramadan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampaknya juga berperanan bagi peningkatan kesehatan manusia.

Keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pebuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah rterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.

Puasa bisa menurunkan kadar gula darah, kolesterol dan mengendalikan tekanan darah. Itulah sebabnya, puasa sangat dianjurkan bagi perawatan mereka yang menderita penyakit diabetes, kolesterol tinggi, kegemukan dan darah tinggi. Dalam kondisi tertentu, seorang pasien bahkan dibolehkan berpuasa, kecuali mereka yang menderita sakit diabetes yang sudah parah, jantung koroner dan batu ginjal. Puasa dapat menjaga perut yang penuh disebabkan banyak makan adalah penyebab utama kepada bermacam-macam penyakit khususnya obesitas, hiperkolesterol, diabetes dan penyakit yang diakibatkan kelebihan nutrisi lainnya.

Penghentian konsumsi air selama puasa sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Dalam keadaan tertentu hal ini akan member perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air dalam puasa ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini berakibat memacu kinerja mekanisme local pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.

Dalam keadaan puasa ternyata dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Penelitian menunjukkan saat puasa terjadi pengkatan limfosit hingga sepuluh kali lipat. Kendati keseluruhan sel darah putih tidak berubah ternyata sel T mengalani kenaikkan pesat. Perubahan aksidental lipoprotein yang berkepadatan rendah (LDL), tanpa diikuti penambahan HDL. LDL merupakan model lipoprotein yang meberika pengaruh stumulatif bagi respon imunitas tubuh.

Pada pelitian terbaru menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar apobetta, menaikkan kadar apoalfa1 dibandingkan sebelum puasa. Kondisi tersebut dapat menjauhkan seragan penyakit jantung dan pembuluh darah.

Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.

Sebuah tulisan penelitian yang dilakukan Dr. Ratey, seorang psikiaters dari Harvard, mengungkapkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori akan meningkatkan kinerja otak. Dr. Ratey melakukan penelitian terhadap mereka yang berpuasa dan memantau otak mereka dengan alat yang disebut “functional Magnetic Resonance Imaging” (fMRI). Hasil pemantauan itu menyimpulkan bahwa setiap individu obyek menunjukkan aktivitas “motor cortex” yang meningkat secara konsisten dan signifikan.

Ilmuwan di bidang neurologi yang bernama Mark Mattson, Ph.D., seorang kepala laboratorium neuroscience di NIH’s National Institute on Aging. Dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa diet yang tepat seperti berpuasa, secara signifikan bisa melindungi otak dari penyakit de-generatif seperti Alzheimer atau Parkinson. Hasil penelitiannya menunjukkan, bahwa diet dengan membatasi masukan kalori 30% sampai 50% dari tingkat normal, berdampak pada menurunnya denyut jantung dan tekanan darah, dan sekaligus peremajaan sel-sel otak.

Taruna Ikrar, MD., PhD
Specialist and Scieintist
University of California, School of Medicine, Irvine, USA
Sumber : www.republica.co.id